TOWUTI – Pemulihan pascakebocoran pipa minyak di Kecamatan Towuti tidak hanya dipandang sebagai kewajiban korporasi oleh PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale). Lebih dari itu, langkah-langkah yang diambil perusahaan diposisikan sebagai wujud kepedulian sosial kepada masyarakat yang terdampak.
Sejak insiden terjadi pada 23 Agustus lalu, PT Vale bersama Pemerintah Daerah Luwu Timur bergerak cepat dengan membentuk tim tanggap darurat.
Pembersihan aliran sungai, asesmen dampak di lahan pertanian, perkebunan, hingga empang warga dilakukan secara intensif dengan melibatkan aparat, para ahli, dan masyarakat setempat.
Direktur sekaligus Chief of Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale, Budiawansyah, menegaskan bahwa perusahaan hadir bukan hanya sebagai entitas bisnis.
“Bagi kami, pemulihan ini adalah bentuk kepedulian sosial. Kami ingin masyarakat merasakan bahwa PT Vale ada di tengah mereka, bekerja dengan hati, dan mengedepankan transparansi dalam setiap langkah,” ujarnya.
Pendekatan sosial ini terlihat nyata melalui mekanisme klasifikasi dampak yang dirancang bersama pemerintah.
Sawah, kebun, empang, ternak, hingga sumur warga diidentifikasi berdasarkan tingkat keparahan rendah, sedang, hingga tinggi. Skema kompensasi pun disiapkan secara proporsional agar adil dan sesuai kondisi riil di lapangan.
Kepala Desa Lioka, Yuliana, menyambut baik langkah ini. “Masyarakat merasa lebih tenang karena ada kepastian. Mekanismenya jelas, dan kami berharap tindak lanjut di lapangan benar-benar sesuai harapan warga,” katanya.
Hal senada disampaikan Kepala Desa Timampu, Samsul, yang menilai kejelasan kompensasi membuat petani lebih percaya diri menghadapi musim panen.
“Keresahan warga mulai terjawab, mereka tidak lagi ragu untuk panen karena sudah ada kepastian dari perusahaan dan pemerintah,” ucapnya.
Selain kompensasi, PT Vale juga menurunkan tim medis serta tim industrial hygiene untuk memeriksa kesehatan warga dan kualitas udara di desa terdampak. Langkah ini, menurut Endra Kusuma, Head of External Relations PT Vale, merupakan bukti komitmen perusahaan.
“Sejak hari pertama, kami memastikan pemulihan tidak berhenti pada aspek fisik, tetapi juga sosial, kesehatan, dan lingkungan. Semua aduan masyarakat menjadi prioritas kami,” tegasnya.
Dengan perpanjangan masa tanggap darurat hingga 12 September 2025, PT Vale bersama pemerintah menegaskan bahwa tidak ada proses yang dilakukan terburu-buru.
Pemulihan Towuti dijalankan secara menyeluruh, berbasis ilmu pengetahuan, dan berorientasi pada keberlanjutan kehidupan masyarakat. (*)