Jembatan Permanen Belum Diresmikan, Warga Perbatasan Salujambu-Lawewe Masih Bayar Jembatan Lokal

waktu baca 3 menit
Selasa, 20 Okt 2026 13:45 0 1176 Redaksi
 

LUWU RAYA — Warga di perbatasan Kabupaten Luwu dan Kabupaten Luwu Utara masih harus membayar biaya penyeberangan melalui jembatan kayu lokal, meski jembatan permanen yang menghubungkan Desa Salujambu dan Desa Lawewe dilaporkan telah rampung secara fisik sejak September 2026.

Jembatan permanen sepanjang 80 meter itu menghubungkan Desa Salujambu, Kecamatan Lamasi, Kabupaten Luwu, dengan Desa Lawewe, Kecamatan Baebunta Selatan, Kabupaten Luwu Utara.

Infrastruktur yang dibangun menggunakan anggaran sekitar Rp12 miliar dari APBD Provinsi Sulawesi Selatan tersebut belum dibuka secara permanen untuk masyarakat.

Akibatnya, warga masih bergantung pada jembatan kayu swadaya yang selama bertahun-tahun menjadi jalur penyeberangan utama di kawasan perbatasan itu.

Tarif yang disebut berlaku mencapai Rp10.000 untuk sepeda motor. Sementara kendaraan roda empat dikenakan biaya sekitar Rp200.000 hingga Rp250.000 sekali melintas.

Bagi petani, buruh harian, dan warga yang setiap hari melintasi jalur tersebut, biaya penyeberangan menjadi pengeluaran tambahan, terutama untuk mengangkut hasil pertanian dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

BACA JUGA:  Pemkab Luwu Genjot Hilirisasi, Kakao Disiapkan Kembali Menjadi Komoditas Unggulan

Sempat Dibuka Dua Hari

Rampungnya pembangunan jembatan permanen sempat memunculkan harapan masyarakat agar biaya penyeberangan dapat segera diakhiri.

Jembatan Salujambu - Lawewe

Harapan itu semakin besar ketika jembatan dilaporkan sempat dibuka untuk umum selama dua hari. Warga menyambut antusias karena dapat melintas tanpa harus membayar tarif jembatan kayu.

Namun, akses tersebut kembali ditutup setelah pembatas dipasang menjelang malam hari.

Informasi yang beredar di tengah masyarakat menyebutkan jembatan belum dibuka secara permanen karena masih menunggu peresmian oleh Gubernur Sulawesi Selatan.

Meski demikian, alasan resmi penutupan dan kepastian jadwal pembukaan masih perlu dikonfirmasi kepada instansi terkait.

Kondisi ini membuat warga kembali menggunakan jembatan kayu untuk menjalankan aktivitas harian, termasuk perjalanan anak sekolah dan distribusi hasil pertanian.

Warga Minta Akses Sementara

Di tengah penantian peresmian, warga berharap pemerintah mempertimbangkan pembukaan akses terbatas bagi kendaraan roda dua, terutama pada siang hari.

BACA JUGA:  Keadilan Tertahan di Meja Bupati: Warga Lampuara Tempuh Jalur Pusat

Permintaan tersebut disampaikan karena masyarakat masih harus mengeluarkan biaya setiap kali menyeberang, sementara jembatan permanen belum dapat digunakan secara bebas.

“Sudah kelar sejak September lalu, tapi masih tertutup rapat. Paling tidak, minimal kendaraan roda dua bisa dikasih lewat dulu. Kasihan masyarakat harus terus bayar Rp10 ribu per motor atau ratusan ribu per mobil hanya demi menunggu acara peresmian,” keluh seorang warga, Selasa (20/10/2026).

Bagi warga, akses sementara akan membantu mengurangi beban biaya perjalanan sembari menunggu proses administrasi dan peresmian diselesaikan.

Namun, pembukaan jembatan tetap perlu mempertimbangkan kelayakan teknis dan keselamatan pengguna. Penyelesaian fisik konstruksi saja belum cukup untuk memastikan jembatan aman digunakan apabila masih ada pekerjaan akhir atau fasilitas keselamatan yang belum siap.

Karena itu, pemerintah daerah dan instansi teknis diharapkan memberikan penjelasan mengenai kondisi terakhir jembatan, tahapan yang masih harus diselesaikan, serta kemungkinan pembukaan akses terbatas.

BACA JUGA:  Tokoh Perempuan Luwu Hj Asni Dorong Kebangkitan Wirausaha Muda, Tekankan Pentingnya Kreativitas dan Riset Pasar

Menanti Manfaat Jembatan Permanen

Pembangunan jembatan Salujambu-Lawewe diharapkan memperkuat konektivitas antara Kabupaten Luwu dan Kabupaten Luwu Utara.

Kehadirannya juga diproyeksikan memperlancar mobilitas warga dan distribusi hasil pertanian di kawasan perbatasan.

Namun, manfaat tersebut baru dapat dirasakan secara langsung ketika jembatan bisa digunakan dengan aman oleh masyarakat.

Warga tidak hanya menunggu peresmian, tetapi juga kepastian kapan infrastruktur itu dapat beroperasi dan mengakhiri ketergantungan pada penyeberangan kayu berbayar.

Bagi masyarakat Salujambu dan Lawewe, jembatan permanen tersebut merupakan harapan untuk memangkas biaya perjalanan dan mempermudah aktivitas ekonomi.

Mereka berharap pemerintah segera memberikan kejelasan mengenai jadwal pembukaan, termasuk kemungkinan akses terbatas apabila persyaratan keselamatan telah terpenuhi.

Dengan demikian, jembatan yang dibangun menggunakan anggaran publik itu tidak hanya selesai secara fisik, tetapi juga segera memberikan manfaat nyata bagi warga di kedua wilayah. (**/red)