Menteri Agama RI Terima Gelar Adat Kedatuan Luwu di Istana Datu Luwu

waktu baca 2 menit
Jumat, 3 Okt 2025 22:16 0 1254 Redaksi
 

PALOPO — Suasana khidmat menyelimuti Istana Datu Luwu, Salassa-E, saat Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., dianugerahi gelar adat “To Makkadanggange ri Labu’ Tikka” oleh Kedatuan Luwu, Jumat (3/10/2025).

Gelar tersebut memiliki makna mendalam, yakni sosok yang istiqamah dalam menegakkan kebenaran.

Penganugerahan dipimpin langsung oleh Datu Luwu XL, H. Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, SH.

Prosesi adat berlangsung dengan rangkaian khas Kedatuan, mulai dari pembacaan ayat suci Al-Qur’an, doa, hingga ritual Rijasangngi Sigerrang, pemasangan Tappi Luwu, serta penyematan pin kehormatan.

Sejumlah tokoh penting turut hadir dalam acara tersebut, di antaranya Bupati Luwu H. Patahudding, S.Ag., Wali Kota Palopo Hj. Nelly Trisal, serta para tokoh adat, pejabat pemerintah, dan masyarakat dari berbagai wilayah Luwu Raya.

Dalam sambutan yang dibacakan Opu Pa’bicara Kedatuan Luwu, Lutfy A. Mutty, YM Datu Luwu XL mengingatkan pentingnya kehadiran istana adat sebagai benteng budaya di tengah arus globalisasi.

Menurutnya, istana tidak boleh dipandang sebagai simbol feodalisme, melainkan sebagai penjaga identitas bangsa. Ia mencontohkan Jepang, Cina, dan Korea sebagai bangsa modern yang tetap berpegang pada tradisi leluhur.

YM Datu Luwu juga menekankan bahwa nilai budaya masyarakat Sulawesi Selatan berakar pada falsafah Siri, Lempu, Getteng, Ada Tongeng, Macca, dan Warani. Nilai-nilai tersebut hanya bisa hidup jika dijaga oleh pemimpin dan tokoh panutan.

Lebih jauh, ia menyampaikan keprihatinan atas maraknya praktik korupsi yang merambah berbagai lembaga negara, termasuk kementerian yang seharusnya menjadi pilar moral dan etika bangsa.

Ia berpesan agar pejabat publik tidak silau oleh kekayaan, tidak lumpuh oleh jabatan, dan tidak tuli oleh pujian.

Penganugerahan gelar adat kepada Menteri Agama ini menegaskan kembali peran Kedatuan Luwu sebagai simpul perekat antara adat, agama, dan negara.

Momen tersebut sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya harmoni budaya dan moralitas dalam membangun bangsa. (*)