
Dosen IPDN Kampus Sulawesi Selatan/Wakil Ketua BPW KKLR Sulsel
KITA sering berharap lahirnya birokrasi yang bersih, tetapi lupa menelusuri dari mana birokrasi itu berasal. Jawabannya sederhana: kampus. Di sanalah calon aparatur negara dibentuk bukan hanya kecerdasannya, tetapi juga karakternya.
Namun, ada ironi yang kerap luput disadari. Praktik-praktik kecil yang menyimpang di lingkungan kampus plagiarisme, menyontek, manipulasi absensi sering dianggap sepele. Padahal, di situlah benih ketidakjujuran mulai tumbuh.
Lawrence Kohlberg (1981) menjelaskan bahwa perkembangan moral individu berlangsung bertahap.
Pendidikan memiliki peran penting dalam mendorong seseorang mencapai tahap moral berbasis prinsip, bukan sekadar kepatuhan karena takut sanksi. Jika kampus gagal menjalankan fungsi ini, maka kita sedang menunda masalah di masa depan.
James Q. Wilson (1989) menegaskan bahwa institusi yang kuat membutuhkan individu yang berkarakter. Sistem yang baik tidak akan berjalan tanpa manusia yang berintegritas. Dalam konteks ini, pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk etika publik.
Dwight Waldo kembali mengingatkan bahwa administrasi publik sarat dengan nilai. Oleh karena itu, pendidikan aparatur negara tidak cukup hanya berorientasi pada kompetensi teknis, tetapi juga pada pembentukan integritas.
Peran dosen dan tenaga pendidik dan kependidikan lainya menjadi kunci. Keteladanan lebih kuat daripada sekadar pengajaran. Ketika mahasiswa melihat konsistensi antara nilai dan tindakan, di situlah integritas benar-benar dipelajari.
Kampus harus menjadi laboratorium integritas. Ruang di mana kejujuran dihargai, pelanggaran tidak ditoleransi, dan etika menjadi bagian dari keseharian.
Kurikulum pun perlu memberi ruang bagi pembelajaran berbasis dilema etis agar mahasiswa terbiasa mengambil keputusan yang benar dalam situasi sulit.
Jika kita ingin masa depan tanpa korupsi, maka investasi terbesar harus dimulai dari sini. Karena pada akhirnya, korupsi bukan lahir tiba-tiba di ruang kekuasaan. Ia tumbuh perlahan dan seringkali, diam-diam sejak di bangku kuliah. (*)