Latimojong, Hulu Kehidupan yang Harus Dijaga

waktu baca 3 menit
Selasa, 23 Sep 2025 19:01 0 1216 Redaksi

Oleh: Husba Phada (Wakil Ketua Badan Pengurus Wilayah Kerukunan Keluarga Luwu (BPW KKLR) Sulsel, Tokoh Masyarakat Latimojong

 

PEGUNUNGAN Latimojong adalah permata hijau di jantung Sulawesi Selatan. Di balik barisan bukit dan lembahnya, tersimpan kekayaan flora dan fauna endemik yang tak ternilai.

Dari sana pula lahir sejumlah sungai besar yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Luwu. Airnya mengalir ke sawah, menjadi sumber minum, hingga menopang kehidupan di Belopa, ibu kota kabupaten. Sungai-sungai itu bukan sekadar aliran air, melainkan denyut kehidupan.

Hutan Latimojong adalah benteng alam. Rimbunnya pepohonan bekerja layaknya spons raksasa: menyerap air hujan, mencegah erosi, dan meredam potensi banjir.

Sungai Suso, yang berhulu di kawasan ini, menjadi bukti nyata betapa vital peran Latimojong dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus keamanan masyarakat.

Di kaki gunung, kehidupan berjalan dalam harmoni. Warga Kecamatan Latimojong merasakan langsung manfaat hutan yang lestari.

Mereka hidup berdampingan dengan alam, mengelola sumber daya dengan kearifan lokal, dan menjaga warisan leluhur. Mereka adalah penjaga sejati Latimojong—menyadari bahwa kelestarian hutan adalah kunci keberlangsungan hidup.

Namun, ancaman datang semakin nyata. Aktivitas pertambangan yang masif—dengan alasan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi—perlahan menggerus ekosistem.

Lahan terbuka, penebangan ilegal, hingga pencemaran air akibat limbah tambang, menjadi bom waktu yang siap meledak, menghancurkan Latimojong dan mengancam kehidupan ribuan orang.

Dalam literatur pembangunan, kritik terhadap model pertumbuhan konvensional sudah lama disuarakan. W.W. Rostow misalnya, menekankan industrialisasi sebagai jalan menuju kemajuan.

Namun pendekatan ini dikritik karena sering mengabaikan aspek sosial-ekologis. Joseph Stiglitz bahkan menegaskan, pembangunan tidak boleh semata diukur dari angka pertumbuhan ekonomi, melainkan juga kualitas hidup dan keberlanjutan lingkungan.

Arturo Escobar melalui perspektif politik ekologi menyebut pembangunan modern sering melahirkan “mitos kemajuan” yang justru meminggirkan masyarakat lokal dan menghancurkan ekosistem. Pertanyaan Escobar relevan untuk Latimojong: pembangunan untuk siapa, dan dengan biaya apa?

James O’Connor menambahkan bahwa kapitalisme membawa “kontradiksi kedua”: kerusakan lingkungan yang pada akhirnya merusak fondasi produksi itu sendiri.

Kasus Latimojong adalah contohnya—mengejar keuntungan jangka pendek lewat pertambangan sama saja dengan menghancurkan basis ekologis yang menopang kehidupan masyarakat Luwu.

Jika Latimojong rusak, bencana tak bisa dielakkan. Erosi akan kian parah, banjir menjadi langganan, sumber air tercemar, dan lahan pertanian kehilangan kesuburannya. Inilah yang disebut para ahli sebagai environmental costs of development—biaya lingkungan yang sering diabaikan dalam hitungan ekonomi formal.

Menambang di Latimojong sama dengan menambang bencana. Keuntungan sesaat dari pertambangan tak akan pernah sebanding dengan kerugian ekologis dan sosial yang ditimbulkan.

Konsep sustainable development yang digagas Gro Harlem Brundtland mengingatkan kita bahwa pembangunan harus memenuhi kebutuhan generasi kini tanpa mengorbankan generasi mendatang.

Kini saatnya membuka mata dan hati untuk bertindak menyelamatkan Latimojong. Pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha harus bersinergi mencari solusi berkelanjutan. Bukan hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan juga memastikan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan rakyat.

Dalam kerangka politik ekologi, penyelamatan Latimojong adalah bagian dari perjuangan merebut kembali hak masyarakat atas lingkungan yang sehat dan adil. Ini bukan sekadar menjaga hutan, tetapi menegakkan keadilan ekologis agar pembangunan tidak melahirkan korban baru.

Latimojong bukan hanya gunung. Ia adalah sumber kehidupan, simbol warisan ekologis Sulawesi Selatan, dan penopang masa depan generasi mendatang. Menghancurkannya sama saja dengan merusak harapan anak cucu kita. Jangan biarkan kerakusan menodai permata hijau ini. (*)