Hasbi: Curun-Curun Sudah Berjalan, Kini Giliran Perusahaan Berkontribusi untuk Provinsi Luwu Raya

waktu baca 3 menit
Minggu, 19 Apr 2026 12:51 0 1209 Redaksi
 

MAKASSAR — Ketua BPW Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Sulawesi Selatan, Ir. H. Hasbi Syamsu Ali, MM, menegaskan bahwa semangat curun-curun atau gotong royong yang telah berjalan di kalangan Wija to Luwu kini perlu diikuti oleh kontribusi nyata dari perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Luwu Raya.

Hal itu disampaikan Hasbi dalam momentum Halalbihalal Wija to Luwu (WTL) 2026 yang dirangkaikan dengan Dzikir Akbar dalam rangka peringatan Hari Perjuangan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80, di Gedung Graha Pena Makassar, Sabtu (18/4/2026).

Menurutnya, pelaksanaan Halalbihalal tahun ini menjadi bukti kuat bahwa masyarakat Luwu Raya memiliki solidaritas dan kemandirian tinggi.

Seluruh pembiayaan kegiatan dilakukan secara swadaya melalui curun-curun, tanpa melibatkan dukungan perusahaan besar seperti PT Vale Indonesia Tbk, Masmindo Dwi Area, maupun Bumi Mineral Sulawesi.

“Curun-curun sudah berjalan dan terbukti. Sekarang saatnya perusahaan-perusahaan besar yang telah lama menikmati hasil sumber daya alam Luwu Raya ikut berkontribusi lebih nyata bagi perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya,” tegas Hasbi.

Ia menilai, keterlibatan dunia usaha menjadi penting karena pembentukan provinsi baru tidak hanya berdampak pada masyarakat, tetapi juga akan menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih berkembang, termasuk bagi para pelaku usaha itu sendiri.

“Kalau Luwu Raya menjadi provinsi, yang akan merasakan manfaatnya bukan hanya masyarakat, tapi juga dunia usaha. Jadi sudah sewajarnya semua pihak berkontribusi sesuai peran masing-masing,” ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung lebih dari tujuh jam, sejak pukul 09.00 hingga 16.30 WITA dan dihadiri sekitar 500 peserta, disebutnya sebagai bukti nyata kekuatan internal Wija to Luwu dalam menggerakkan agenda perjuangan.

“Ini bukan sekadar seremonial, tapi konsolidasi kekuatan. Kita sudah menunjukkan kemampuan dari dalam. Tinggal bagaimana mendorong pihak eksternal, termasuk perusahaan, untuk ikut bertanggung jawab,” lanjutnya.

Halalbihalal WTL 2026 mengusung tema “Merajut Ukhuwah, Memperkuat Spirit Perjuangan Provinsi Luwu Raya” dan dihadiri berbagai elemen, mulai dari pemerintah, legislatif, kepala daerah, akademisi, tokoh adat, hingga organisasi kemasyarakatan dan pemuda.

Ketua panitia, Ahmad Huzaen, menyebut tingginya partisipasi peserta yang bertahan dari pagi hingga sore mencerminkan kuatnya ikatan emosional masyarakat Luwu Raya.

“Antusiasme peserta luar biasa. Mereka mengikuti seluruh rangkaian acara sampai selesai. Ini menunjukkan kebersamaan Wija to Luwu masih sangat kuat,” ujarnya.

Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ruang konsolidasi arah perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya. Dalam kesempatan tersebut turut disosialisasikan Program Serbu Luwu Raya, yakni kampanye donasi publik untuk memperkuat pembiayaan perjuangan pemekaran.

Pada rangkaian acara, tim Universitas Andi Djemma Palopo juga menyerahkan naskah akademik pembentukan Provinsi Luwu Raya kepada Ketua Badan Pekerja Pemekaran (BPP) DOB Luwu Raya, Darwis Ismail.

Rektor Unanda, Anas Boceng, menjelaskan bahwa dokumen setebal hampir 700 halaman tersebut disusun secara komprehensif oleh sekitar 20 akademisi selama empat bulan.

“Dokumen ini menjadi pijakan penting dalam mendorong pembentukan Provinsi Luwu Raya, sekaligus membuka berbagai opsi pendekatan sesuai regulasi nasional,” jelasnya.

Kegiatan juga diisi diskusi tematik bertajuk “Progres dan Tantangan Pembentukan Provinsi Luwu Raya” yang dipandu Udhi Syahruddin Hamun, dengan menghadirkan narasumber seperti akademisi Hasrullah dan Abdul Rahman Nur.

Dalam diskusi tersebut, para pembicara menegaskan bahwa pembentukan Provinsi Luwu Raya merupakan langkah strategis untuk mendorong pemerataan pembangunan, peningkatan kualitas pelayanan publik, serta percepatan kesejahteraan masyarakat.

Dengan potensi sumber daya alam yang besar, mulai dari sektor kelautan, kehutanan, hingga energi, Luwu Raya dinilai memiliki kapasitas kuat untuk berdiri sebagai provinsi mandiri.

Melalui momentum ini, KKLR Sulsel menegaskan bahwa semangat curun-curun telah menjadi fondasi awal perjuangan, dan kini saatnya dukungan lebih luas, termasuk dari dunia usaha, mengambil peran dalam mewujudkan Provinsi Luwu Raya. (*)