Hari Jadi Kabupaten Luwu ke-67, Ritual Maddoja Roja Kembali Hidupkan Nilai Adat dan Spiritualitas

waktu baca 3 menit
Sabtu, 4 Jul 2026 14:10 0 1153 Redaksi
 

BELOPA – Peringatan Hari Jadi Kabupaten Luwu ke-67 tidak hanya diisi dengan rangkaian kegiatan seremonial dan pembangunan, tetapi juga menjadi momentum memperkokoh jati diri budaya masyarakat melalui pelaksanaan ritual adat Maddoja Roja.

Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun itu digelar dengan khidmat di Baruga Arung Senga, Jumat malam (3/7/2026).

Ritual tersebut merupakan bagian dari prosesi adat Mappacekke Wanua, sebuah tradisi yang dimaknai sebagai ikhtiar menyucikan negeri sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan keberkahan bagi Tana Luwu.

Selain mengandung nilai spiritual, prosesi ini juga menjadi simbol pelestarian adat dan penguatan kebersamaan masyarakat.

Acara dihadiri Wakil Bupati Luwu, Muhammad Dhevy Bijak Pawindu, Sekretaris Daerah Muh. Rudi, Ketua DPRD Kabupaten Luwu Ahmad Gazali, unsur Forkopimda, Ketua TP PKK Kabupaten Luwu Ny. Hj. Kurniah Patahudding, jajaran perangkat daerah, para pemangku adat, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.

Hadir pula Yang Mulia Macenning Luwu Andi Sitti Husaima, Makole Baebunta Hj. Andi Syarifah Muhaeminah, Maddika Ponrang Andi Saddawero Kira, Maddika Bua Andi Syarifuddin, Patunrung Luwu Andi Saddakayi Arsyad, serta Direktur Utama PT Masmindo Dwi Arya.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Luwu, Mulianto Taro, menjelaskan bahwa Mappacekke Wanua secara harfiah berarti mendinginkan negeri.

Tradisi tersebut menjadi doa bersama agar masyarakat dijauhkan dari berbagai marabahaya sekaligus memohon keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan bagi seluruh wilayah Luwu.

Ia menjelaskan, rangkaian ritual diawali dengan Mallekke Wai, yaitu pengambilan air dari mata air yang disakralkan. Selanjutnya dilaksanakan Maddoja Roja, tradisi berjaga semalam yang diisi dengan doa, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dan zikir.

Rangkaian prosesi kemudian ditutup pada Sabtu pagi melalui Mangeppi Wai, yakni pemercikan air suci sebagai simbol penyucian negeri dan permohonan keselamatan bagi masyarakat.

Dalam sambutan Bupati Luwu H. Patahudding yang dibacakan Wakil Bupati Muhammad Dhevy Bijak Pawindu, ditegaskan bahwa Mappacekke Wanua memiliki makna yang jauh melampaui sebuah tradisi budaya.

Ritual tersebut mengandung pesan agar masyarakat senantiasa menjaga kebersihan lingkungan, mempererat persaudaraan, serta memperkuat persatuan sebagai fondasi pembangunan daerah.

Menurutnya, pelaksanaan Maddoja Roja juga menjadi bentuk penghormatan kepada warisan leluhur sekaligus wujud syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan kepada masyarakat Tana Luwu.

Pemerintah Kabupaten Luwu, lanjutnya, memandang pelestarian adat dan budaya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari agenda pembangunan.

Kemajuan daerah diyakini akan memiliki makna yang lebih kuat apabila berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas budaya serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus.

Melalui pelaksanaan ritual Maddoja Roja dalam rangkaian Mappacekke Wanua, Pemerintah Kabupaten Luwu bersama para pemangku adat kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga warisan budaya sebagai bagian dari jati diri Tana Luwu.

Tradisi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya diukur dari kemajuan fisik, tetapi juga dari kemampuan masyarakat merawat akar budaya, nilai spiritual, dan kearifan lokal yang telah diwariskan lintas generasi. (*)