
Hamzah Jalante adalah Dosen IPDN Kampus Sulawesi Selatan/Wakil Ketua BPW KKLR Sulsel
DALAM perjalanan panjang di dunia birokrasi pemerintahan daerah, saya menyadari satu hal penting, ujian integritas tidak pernah datang dalam bentuk yang sederhana. Ia hadir dalam situasi yang kompleks, sering kali samar antara benar dan salah, serta dibungkus dengan kepentingan yang tampak rasional.
Pada suatu fase jabatan yang saya emban, saya dihadapkan pada sebuah keputusan strategis yang secara administratif tampak biasa, namun secara substansi mengandung persoalan etis yang serius. Tekanan datang tidak hanya dari kebutuhan organisasi, tetapi juga dari ekspektasi pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan.
Secara formal, semua prosedur dapat disesuaikan. Secara normatif, keputusan tersebut bisa dibenarkan melalui berbagai argumentasi teknokratis. Namun, di balik itu, saya merasakan adanya pergeseran nilai sebuah kompromi kecil yang jika dibiarkan, dapat menjadi preseden bagi penyimpangan yang lebih besar. Di titik inilah ujian integritas benar-benar terjadi.
Pilihan yang saya hadapi tidak mudah. Di satu sisi, mengikuti arus berarti menjaga stabilitas hubungan dan menghindari konflik. Di sisi lain, mempertahankan prinsip berarti siap menghadapi konsekuensi baik secara struktural maupun personal. Saya memilih untuk berdiri pada prinsip.
Keputusan tersebut tidak serta-merta membawa kenyamanan. Ada ketegangan, ada jarak yang tercipta, bahkan ada risiko terhadap posisi yang saya emban saat itu. Namun, saya meyakini bahwa integritas bukanlah soal hasil jangka pendek, melainkan komitmen jangka panjang terhadap nilai yang diyakini benar.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa dalam birokrasi, penyimpangan tidak selalu dimulai dari pelanggaran besar. Ia sering berawal dari kompromi kecil yang dianggap wajar. Ketika hal itu berulang, ia perlahan menjadi norma.
Robert Klitgaard pernah mengingatkan bahwa korupsi tumbuh dalam ruang yang memberi peluang dan pembenaran. Dalam konteks ini, ujian integritas bukan hanya tentang menolak yang salah, tetapi juga tentang menutup ruang bagi pembenaran terhadap kesalahan.
Dari pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa integritas bukanlah sesuatu yang diuji sekali, tetapi berulang. Ia bukan keputusan sesaat, melainkan sikap yang harus dijaga secara konsisten.
Dan dalam setiap jabatan, selalu ada momen di mana kita harus memilih menjadi bagian dari masalah, atau tetap menjadi bagian dari solusi. Itulah hakikat ujian integritas. (*)