Luwu Utara Berduka, Mantan Bupati Arifin Junaidi Tutup Usia pada 73 Tahun

waktu baca 3 menit
Selasa, 7 Jul 2026 17:58 0 1186 Redaksi
 

MAKASSAR — Kabupaten Luwu Utara kehilangan salah satu putra terbaiknya. Mantan Bupati Luwu Utara periode 2010–2015, H. Arifin Junaidi, meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Selasa (7/7/2026).

Bupati kedua Luwu Utara yang akrab disapa Arjuna itu mengembuskan napas terakhir pada usia 73 tahun setelah hampir satu tahun berjuang melawan penyakit yang dideritanya.

Almarhum diketahui mengalami komplikasi penyakit yang disertai penumpukan cairan di paru-paru dan selama beberapa bulan terakhir menjalani perawatan intensif di Makassar.

Kabar wafatnya Arifin Junaidi segera menyebar luas dan mengundang duka dari berbagai kalangan, terutama masyarakat Luwu Utara yang mengenalnya sebagai birokrat senior sekaligus pemimpin yang berperan dalam membangun fondasi pemerintahan daerah sejak masa-masa awal berdirinya kabupaten tersebut.

Jenazah almarhum dipersiapkan untuk dipulangkan dari Makassar menuju kampung halamannya di Desa Pombaniki, Kecamatan Sabbang Selatan, Kabupaten Luwu Utara. Setibanya di rumah duka, jenazah akan disemayamkan sebelum dimakamkan.

Adik almarhum, Bunaya, membenarkan bahwa kakaknya telah lama berjuang melawan penyakit.

“Sudah hampir satu tahun ini sakit,” ujarnya.

Ucapan belasungkawa juga datang dari Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim. Melalui unggahan di media sosial pribadinya, Andi Rahim menyampaikan doa terbaik untuk pendahulunya tersebut.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Turut berduka atas meninggalnya Bapak H. Arifin Junaidi. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala dosa-dosanya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.”

Kepergian Arifin Junaidi menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang birokrat yang hampir seluruh hidupnya diabdikan untuk pemerintahan dan pembangunan Luwu Utara.

Jejak Pengabdian

Lahir di Sabbang pada 17 Agustus 1952, tepat pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Arifin memulai kariernya sebagai aparatur sipil negara dari jenjang paling bawah.

Berbekal pengalaman birokrasi yang panjang, ia dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis, mulai dari Camat Malangke hingga Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

Karier birokrasinya kemudian mengantarkannya ke panggung kepemimpinan daerah. Pada 2005, ia dipercaya menjadi Wakil Bupati Luwu Utara mendampingi Bupati Luthfi A. Mutty. Jabatan tersebut menjadikannya wakil bupati pertama sejak Kabupaten Luwu Utara berdiri.

Dalam masa transisi pemerintahan, Arifin juga pernah mengemban amanah sebagai Bupati definitif periode 2009–2010 sebelum akhirnya memenangkan Pilkada 2010 dan memimpin Luwu Utara untuk periode 2010–2015 bersama Wakil Bupati Indah Putri Indriani.

Selama masa kepemimpinannya, berbagai program pembangunan terus didorong, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas pelayanan publik, penguatan sektor pertanian, hingga pembenahan tata kelola pemerintahan sebagai fondasi pembangunan daerah.

Selain dikenal sebagai birokrat, Arifin juga aktif di dunia politik. Ia pernah menjabat Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Luwu Utara dan tetap aktif dalam berbagai aktivitas politik setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai kepala daerah.

Pengalaman panjangnya sebagai aparatur negara bahkan ia tuangkan dalam sebuah autobiografi berjudul “Birokrat Tahan Banting”, sebuah refleksi perjalanan hidup yang menggambarkan karakter kepemimpinannya yang dikenal tangguh, disiplin, dan konsisten dalam mengabdi kepada masyarakat.

Bagi banyak kalangan, Arifin Junaidi bukan sekadar mantan kepala daerah. Ia dikenang sebagai birokrat tulen yang tumbuh dari bawah, memahami denyut pemerintahan hingga tingkat akar rumput, kemudian menuntaskan pengabdiannya sebagai pemimpin daerah.

Almarhum meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Di mata masyarakat, sosoknya juga dikenal memiliki kepedulian sosial yang tinggi dan mudah bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat.

Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi Bumi La Maranginang. Namun jejak pengabdian, keteladanan, dan semangat “tahan banting” yang diwariskannya akan tetap menjadi bagian dari perjalanan sejarah pembangunan Kabupaten Luwu Utara. (*)