Hamzah Jalante | INTEGRITAS SEBAGAI SISTEM: Dari Individu Ke Ekosistem

waktu baca 2 menit
Selasa, 7 Jul 2026 14:30 0 1183 Redaksi

Hamzah Jalante adalah Dosen IPDN Kampus Sulawesi Selatan/Wakil Ketua BPW KKLR Sulsel

 

SELAMA ini, integritas sering dipahami sebagai kualitas personal soal kejujuran, moralitas, dan komitmen individu.

Pendekatan ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi menjadi tidak memadai ketika dihadapkan pada realitas birokrasi yang kompleks. Sebab dalam praktiknya, integritas tidak hanya hidup atau mati pada individu, melainkan dibentuk, diuji, dan dipertahankan oleh sistem di sekitarnya.

Di sinilah pentingnya menggeser cara pandang dari integritas sebagai atribut individu menuju integritas sebagai ekosistem.

Robert Klitgaard telah menunjukkan bahwa korupsi tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh dalam struktur yang memungkinkan.

Ketika monopoli kekuasaan tinggi, diskresi luas, dan akuntabilitas lemah, maka bahkan individu yang berintegritas pun dapat tergoda atau tertekan untuk menyimpang. Artinya, memperbaiki individu tanpa membenahi sistem hanya akan menghasilkan perubahan yang rapuh.

Sebaliknya, sistem yang dirancang dengan baik mampu memperkuat integritas individu. Aturan yang jelas, prosedur yang transparan, serta pengawasan yang adil menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perilaku jujur. Dalam konteks ini, integritas bukan lagi sekadar pilihan moral, tetapi menjadi bagian dari mekanisme kerja.

James Q. Wilson (1989) menekankan bahwa perilaku organisasi dibentuk oleh norma yang hidup. Norma tersebut tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dibangun melalui interaksi antara kebijakan, kepemimpinan, dan praktik sehari-hari. Ketika ketiganya selaras, maka integritas akan menjadi budaya, bukan pengecualian.

Dwight Waldo mengingatkan bahwa administrasi publik adalah arena nilai. Karena itu, membangun sistem integritas tidak cukup dengan pendekatan teknokratis. Ia membutuhkan komitmen etis yang melembaga dari perumusan kebijakan hingga implementasi di lapangan.

Ekosistem integritas setidaknya terdiri dari beberapa elemen kunci kepemimpinan yang memberi teladan, sistem yang transparan dan akuntabel, pengawasan yang adil, serta budaya organisasi yang menghargai kejujuran. Di atas semua itu, terdapat kepercayaan publik yang menjadi tujuan sekaligus indikator keberhasilan.

Namun membangun ekosistem bukanlah pekerjaan instan. Ia membutuhkan konsistensi, keberanian, dan ketahanan terhadap godaan kompromi. Sebab dalam setiap sistem, selalu ada tarik-menarik antara kepentingan jangka pendek dan nilai jangka panjang.

Di sinilah letak tantangan sekaligus harapan. Ketika integritas tidak lagi dibebankan hanya pada individu, tetapi ditopang oleh sistem yang sehat, maka perubahan tidak bersifat sporadis, melainkan berkelanjutan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi “siapa yang berintegritas?”, tetapi “ apakah sistem kita memungkinkan integritas untuk bertahan?” Karena hanya dalam ekosistem yang tepat, integritas dapat tumbuhdan bertahan. (*)