Tom Al-Kadry Sorot Represi Satpol PP di Laoli, Kritik Keras Sikap Diam Mahasiswa Lutim

waktu baca 2 menit
Jumat, 1 Mei 2026 21:23 0 1194 Redaksi
 

MALILI — Mantan aktivis mahasiswa asal Luwu Timur, Wahyu ‘Tom’ Al-Kadry, menyoroti keras tindakan represif Satpol PP terhadap warga petani Laoli, Kabupaten Luwu Timur, sekaligus melayangkan kritik tajam kepada organisasi mahasiswa asal Luwu Timur yang dinilainya memilih diam di tengah penderitaan masyarakat.

Dalam pernyataan yang diterima redaksi pada Jumat (1/5/2026), Wahyu “Tom” Al-Kadry menyampaikan keprihatinan mendalam atas pendekatan koersif yang digunakan pemerintah daerah dalam menghadapi konflik agraria di wilayah tersebut.

“Saya merasa bangga karena pendampingan terhadap warga justru dilakukan secara serius oleh LBH Makassar, PBHI Sulsel, dan LKBHMI HMI Cabang Makassar. Mereka hadir membela rakyat ketika situasi makin menekan,” ujar Tom.

Namun di sisi lain, mantan Sekretaris Umum HMI Cabang Makassar periode 2002–2003 itu mengaku sangat prihatin terhadap sikap sejumlah organisasi mahasiswa daerah seperti IPMALUTIM, HAM Lutim Palopo, dan IPPMK Lutim Palu yang menurutnya cenderung apatis terhadap persoalan besar yang terjadi di kampung halaman mereka sendiri.

“Sangat memprihatinkan. Warga sedang menghadapi tekanan serius, tetapi lembaga mahasiswa Luwu Timur justru terkesan tidak peduli. Padahal mereka membawa nama daerah dan seharusnya berdiri paling depan bersama rakyat,” tegasnya.

Tom bahkan menyinggung kemungkinan adanya faktor ketakutan politik yang memengaruhi sikap organisasi mahasiswa tersebut.

“Jangan sampai mereka takut bersikap kritis karena khawatir bantuan hibah APBD ke organisasinya terganggu. Jika itu benar, maka ini adalah kemunduran besar bagi independensi gerakan mahasiswa,” katanya.

Sebagai tokoh yang juga pernah menjabat Koordinator Wilayah XI Sulawesi ISMAHI (Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia) serta Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum UMI, Tom menegaskan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab historis sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan pembela kepentingan rakyat.

“Mereka mestinya malu. Persoalan serius di daerah sendiri justru lebih dahulu direspons oleh lembaga dari luar yang bahkan tidak punya keterkaitan langsung dengan Luwu Timur. Ini tamparan keras bagi idealisme mahasiswa lokal,” tandasnya.

Tom menilai konflik Laoli bukan semata soal sengketa tanah, melainkan ujian nyata bagi keberanian organisasi mahasiswa dalam menjaga marwah perjuangan dan keberpihakan sosial.

Menurutnya, diam dalam situasi seperti ini bukan sekadar kelalaian, melainkan bentuk pengingkaran terhadap sejarah panjang gerakan mahasiswa sebagai suara kritis rakyat.

Pernyataan Wahyu “Tom” Al-Kadry pun menjadi sorotan penting di tengah memanasnya konflik agraria Laoli, sekaligus menjadi alarm moral bagi mahasiswa Luwu Timur untuk kembali menegaskan posisinya sebagai agen perubahan, bukan sekadar simbol organisasi. (*)