Hamzah Jalante | UJIAN INTEGRITAS DI MEJA KEKUASAAN: Dari Menjaga Sistem Menuju Memimpin Arah

waktu baca 2 menit
Selasa, 21 Jul 2026 17:09 0 1183 Redaksi

Hamzah Jalante adalah Dosen IPDN Kampus Sulawesi Selatan/Wakil Ketua BPW KKLR Sulsel

 

DALAM perjalanan saya sebagai Kepala Bagian Administrasi dan Pengendalian Pembangunan, satu hal yang patut saya syukuri adalah tidak ditemukannya proyek bermasalah selama saya menjalankan amanah tersebut.

Hal ini bukan berarti tidak adanya potensi penyimpangan. Sebaliknya, saya memahami betul bahwa ruang tersebut sangat rawan. Namun dengan membangun sistem yang jelas, memperkuat pedoman, serta menjaga konsistensi dalam pelaksanaan, berbagai potensi masalah dapat dicegah sejak awal.

Saya semakin meyakini bahwa pencegahan jauh lebih penting daripada penindakan. Ketika sistem dirancang dengan baik, celah dipersempit, dan integritas dijaga bersama, maka penyimpangan tidak mendapatkan ruang untuk tumbuh.

Pengalaman ini menjadi pelajaran berharga bahwa keberhasilan dalam birokrasi bukan hanya diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi juga dari seberapa bersih dan akuntabel proses tersebut dijalankan.

Dalam perjalanan pengabdian tersebut, ada satu fase yang menjadi penanda penting, di tengah dinamika nasional yang juga mengalami perubahan arah kebijakan pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, saya bersyukur bahwa ikhtiar menjaga integritas dan profesionalitas kerja mendapatkan pengakuan.

Alhamdulillah, tanpa tekanan politik maupun kepentingan struktural tertentu, kepercayaan itu hadir dalam bentuk penghargaan dari negara melalui kenaikan pangkat dan golongan secara berturut-turut. Dimulai dari golongan III/b ke III/c, kemudian III/c ke III/d, hingga mencapai IV/a.

Bagi saya, kenaikan ini bukan sekadar capaian administratif, tetapi merupakan refleksi bahwa kerja-kerja yang dijalankan secara lurus, sistematis, dan bertanggung jawab tetap menemukan jalannya untuk dihargai.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa dalam birokrasi, integritas bukanlah sesuatu yang naif atau utopis. Ia justru menjadi fondasi yang mempertemukan antara kepercayaan, kinerja, dan keberlanjutan kepemimpinan. Inilah yang kemudian menjadi bekal penting ketika saya melanjutkan amanah pada jabatan berikutnya, dengan ruang lingkup tanggung jawab yang lebih luas dan tantangan yang semakin kompleks.

Dua tahun menjalankan amanah tersebut, saya kemudian kembali dihadapkan pada babak baru. Saya dipercaya untuk mengemban tugas sebagai Asisten Ekonomi dan Pembangunan.

Bagi saya, ini bukan sekadar promosi jabatan, tetapi perluasan tanggung jawab. Jika sebelumnya saya berperan dalam menjaga dan mengendalikan sistem, maka pada posisi ini saya dituntut untuk ikut menentukan arah bagaimana pembangunan dirancang, dikawal, dan dipastikan memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat.

Ujian integritas pun tidak berhenti. Ia hanya berubah bentuk dari teknis operasional menjadi keputusan strategis. Dan saya menyadari, semakin tinggi amanah, semakin luas pula dampak dari setiap keputusan yang diambil. (*)