
Oleh: Hamzah Jalante (Dosen IPDN Kampus Sulawesi Selatan/Wakil Ketua BPW KKLR Sulsel)
PERJALANAN panjang dalam pengelolaan keuangan daerah yang telah saya lalui memberikan satu pelajaran mendasar bahwa integritas bukan sekadar nilai moral yang bersifat personal, melainkan fondasi utama dalam membangun sistem pemerintahan yang kredibel.
Integritas melahirkan keberanian untuk bertindak benar, bahkan ketika tidak ada yang mengawasi. Ia menuntun setiap keputusan agar tetap berada dalam koridor peraturan perundang-undangan, sekaligus menjaga amanah publik dari penyimpangan.
Dari integritas, lahirlah kinerja.
Kinerja yang tidak sekadar mengejar target administratif, tetapi benar-benar menghasilkan perubahan nyata, perbaikan tata kelola, peningkatan kualitas laporan keuangan, serta optimalisasi pendapatan daerah. Ketika sistem dibangun di atas kejujuran dan profesionalisme, maka hasilnya akan terukur dan berkelanjutan.
Kinerja yang baik pada akhirnya membangun kepercayaan publik.
Kepercayaan tidak dapat dibeli, tidak dapat direkayasa, dan tidak dapat dipaksakan. Ia tumbuh secara alami ketika masyarakat melihat konsistensi antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan oleh pemerintahnya. Kepercayaan publik inilah yang menjadi modal sosial paling berharga dalam menjalankan roda pemerintahan.
Dan dari kepercayaan publik, lahirlah legitimasi kepemimpinan.
Legitimasi bukan hanya diperoleh melalui prosedur demokrasi, tetapi diperkuat oleh rekam jejak kinerja dan integritas. Seorang pemimpin yang dipercaya akan memiliki ruang yang lebih luas untuk menjalankan kebijakan, melakukan terobosan, dan membawa perubahan yang lebih besar bagi masyarakat.
Dengan demikian, terdapat satu mata rantai yang tidak terpisahkan:
Integritas → Kinerja → Kepercayaan Publik → Legitimasi Kepemimpinan
Rantai ini bukan sekadar konsep, tetapi sebuah kenyataan yang saya saksikan dan alami secara langsung.
Namun demikian, menjaga integritas bukanlah pekerjaan sekali jadi. Ia adalah proses yang terus-menerus, yang diuji dalam setiap fase terutama ketika seseorang berada pada titik keberhasilan. Karena sesungguhnya, ujian terbesar bukan saat kita berada dalam kesulitan, tetapi justru ketika kita memiliki kewenangan, kepercayaan, dan kesempatan.
Pada akhirnya, saya meyakini bahwa jabatan adalah amanah, bukan tujuan. Keberhasilan adalah titipan, bukan kepemilikan. Dan integritas adalah pilihan yang harus dijaga, dalam kondisi apa pun.
Pada bagian akhir ini, saya ingin menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada guru besar saya, Bapak HM. Luthfi Andi Mutty, yang telah mengajarkan tidak hanya teori, tetapi juga praktik langsung tentang bagaimana menjalankan pemerintahan yang baik dan benar, dengan menjaga etika pemerintahan yang berlandaskan integritas.
Demikian pula kepada para pejabat pimpinan atas arahan dan bimbingan serta ruang dan kesempatan yang diberikan kepada saya untuk bekerja secara professional dalam melaksanakan tugas jabatan yang diamanahkan.
Saya juga bersyukur dan berterima kasih kepada istri dan anak-anak saya, yang dengan sabar dan penuh ketulusan senantiasa mendukung sikap dan pilihan saya dalam menjaga integritas, sehingga kami tidak tergoda oleh berbagai rayuan yang dapat menjerumuskan pada permasalahan.
Terima kasih juga saya sampaikan kepada seluruh bapak/ibu dan saudara-saudara mitra kerja selama berkarier di daerah kabupaten luwu, kota administratif palopo, kabupaten luwu utara dan kota palopo atas Kerjasama yang solid dan kompak.
Kalian semua adalah “the drean team”, tanpa bapak/ibu dan saudara-saudara semua capaian tidak akan terwujud sesuai rencana, dan kalaulah hal itu dinilai sebagai keberhasilan, maka itu adalah prestasi kerja kolektif dari kita semua yang mendapat dukungan publik.
Semoga setiap langkah kecil yang telah dilakukan dapat menjadi bagian dari ikhtiar besar dalam membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel.
Hormat saya.
Hamzah Jalante