
Bagian 13: Integritas di Tengah Keberhasilan
PADA titik ketika kinerja mencapai puncaknya dan kepercayaan publik semakin menguat, ujian integritas justru hadir dalam bentuk yang lebih halus namun sangat menentukan.
Suatu ketika, datang seorang direktur dari sebuah bank swasta bersama dua orang staf wanitanya yang berpenampilan menarik/.mnvx. Mereka menyampaikan permintaan agar dana kas daerah sebesar Rp.15 miliar dipindahkan ke bank mereka untuk paling lama tiga bulan.
Sebagai imbalannya, mereka menawarkan berbagai kemudahan, termasuk suku bunga deposito yang lebih tinggi. Namun yang paling mencolok, mereka bahkan membawa langsung sebuah mobil Pajero terbaru sebagai bentuk “penawaran”.
Sebagai Bendahara Umum Daerah (BUD), saya memiliki kewenangan dalam penempatan kas daerah. Namun bagi saya, kewenangan bukanlah ruang untuk kepentingan pribadi.
Dengan sikap yang tetap menghargai, saya menolak permintaan tersebut dan mempersilakan mereka membawa kembali apa yang mereka tawarkan. Selain pertimbangan moral dan hukum, saya juga melihat adanya risiko terhadap keamanan dana publik apabila keputusan diambil tidak secara profesional.

Ujian berikutnya datang dalam bentuk tekanan untuk mencairkan dana proyek dari pihak yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan. Namun saya menolak dengan tegas.
Bagaimana mungkin dana dicairkan sementara panitia pemeriksa hasil pekerjaan belum menandatangani? Saya sampaikan secara jelas bahwa perintah dari siapa pun tidak akan saya laksanakan jika bertentangan dengan ketentuan yang berlaku. Integritas, bagi saya, tidak mengenal kompromi.
Dalam kesempatan lain, Wali Kota Palopo meminta saya menyiapkan anggaran sebesar Rp.10 miliar untuk rehabilitasi kantor wali kota yang terbakar. Setelah melakukan kajian, saya justru memberikan pertimbangan berbeda.
Bagaimana mungkin merehabilitasi Gedung yang sudah terbakar yang hampir dapat dipastikan besi tulang betonnya sudah ikut memuai sehingga sangat mengkuatirkan bisa roboh dan mencelakai, disamping itu secara kasat mata terlihat jalan utama trans Sulawesi yang melintasi depan kantor sudah jauh lebih tinggi dari lantai kantor tersebut.
Saya menyarankan agar dibangun gedung baru secara menyeluruh dengan skema pembiayaan sekitar Rp.50 miliar melalui proyek multiyears.
Saya juga menyampaikan keyakinan bahwa peningkatan PAD akan mampu mendukungnya, bahkan dengan konsekuensi saya siap mundur apabila hal tersebut tidak tercapai.
Alhamdulillah, bangunan tersebut akhirnya dapat terwujud terbangun megah sebagai pusat simpul pelayanan serta menjadi salah satu ikon kebanggaan masyarakat kota palopo.
Puncak dari ujian pilihan justru hadir di akhir masa tugas saya. Saat itu, saya diberikan kesempatan untuk ikut seleksi terbuka Bakal Calon Sekretaris Daerah dan menempati peringkat pertama hasil seleksi terbuka tersebut.
Namun setelah saya mengikuti proses seleksi tersebut, saya menerima surat dari Direktur IPDN Kampus Sulawesi Selatan menindak lanjutan hasil pemeriksaan Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri yang inti suratnya mengharuskan saya memilih pindah sepenuhnya menjadi PNS dan melanjutkan karier di Pemerintah Kota Palopo atau Kembali melanjutkan tugas di IPDN sebagai bagian dari Kementerian Dalam Negeri.
Dengan penuh kesadaran, saya memilih untuk kembali ke IPDN. Bagi saya, misi penugasan yang diamanahkan oleh Menteri Dalam Negeri telah tercapai. Pengelolaan keuangan daerah telah membaik, opini WTP telah diraih, dan PAD meningkat secara signifikan.
Saya kemudian menyampaikan langsung surat permintaan berhenti dari jabatan kepada walikota padan tanggal 2 februari 20119. Alhamdulillah, beliau dapat memahami dan menerima pilihan tersebut. Akhirnya, pada tanggal 7 Februari 2019, saya dilepas secara resmi di hadapan seluruh jajaran Pemerintah Kota Palopo.
Pada kesempatan itu beliau menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas bantuan memperbaiki pengelolaan keuangan pemerintah kota palopo sembari melontarkan pujian bahwa kantor walikota tempat dilaksanakannya pelepasan terbangun semegah ini berkat pikiran pak hamzah jalante.
Bagi saya, itulah makna dari sebuah pilihan. Bahwa keberhasilan bukanlah alasan untuk berubah arah, dan jabatan bukanlah tujuan akhir. Karena pada akhirnya, yang paling berharga untuk dijaga bukanlah posisi, melainkan integritas. (*)