UJIAN INTEGRITAS: Tekanan Kekuasaan dan Keberanian Menegakkan Keputusan

waktu baca 3 menit
Selasa, 14 Jul 2026 11:32 0 1175 Redaksi

Hamzah Jalante adalah Dosen IPDN Kampus Sulawesi Selatan/Wakil Ketua BPW KKLR Sulsel

 

DALAM praktik birokrasi pemerintahan, integritas tidak hanya diuji oleh godaan materi atau keuntungan pribadi. Dalam banyak situasi, ujian justru datang dalam bentuk tekanan kekuasaan yang berupaya memengaruhi arah keputusan. Pengalaman itu saya hadapi ketika menjabat sebagai camat.

Pada saat itu, saya mengusulkan kepada Bupati untuk memberhentikan tiga oknum kepala desa secara bersamaan. Usulan tersebut bukan tanpa dasar. Dari hasil pengamatan, laporan masyarakat, serta penelusuran yang saya lakukan, ketiganya terbukti melakukan perbuatan yang mencederai kepercayaan publik.

Pelanggaran yang terjadi teridikasi kuat sebagai pelanggaran disiplin berat yang jika tidak ditindak lanjuti dengan penegakan sanksi, akan menimbulkan preseden buruk bagi keberlangsungan praktik pemerintahan yang baik dan benar.

Situasi ini telah menimbulkan keresahan yang meluas di tengah masyarakat. Kepercayaan publik terhadap pemerintahan desa mengalami penurunan yang signifikan. Dalam kondisi seperti itu, saya memandang bahwa tindakan tegas bukan hanya diperlukan, tetapi menjadi keharusan moral.

Namun, keputusan administratif dalam birokrasi tidak selalu berjalan dalam ruang yang steril. Setelah usulan tersebut diajukan, saya mulai merasakan adanya tekanan agar mempertimbangkan kembali langkah tersebut.

Tekanan itu tidak selalu hadir dalam bentuk perintah langsung, tetapi lebih sering dalam bentuk isyarat, saran, dan pertimbangan-pertimbangan yang seolah-olah mengajak untuk “menahan diri.” Di titik inilah integritas kembali diuji.

Saya dihadapkan pada dua pilihan. Mengikuti arus dengan mempertimbangkan berbagai tekanan yang ada, atau tetap berdiri pada prinsip bahwa jabatan publik harus dijalankan untuk melindungi kepentingan masyarakat. Saya memilih untuk tetap melanjutkan usulan tersebut.

Keputusan itu bukan semata-mata didasarkan pada penilaian pribadi, tetapi juga pada fakta bahwa masyarakat di tiga desa tersebut telah lama merasakan dampak negatif dari perilaku para oknum kepala desa tersebut. Dukungan masyarakat menjadi penguat bahwa langkah yang diambil bukan hanya benar secara administratif, tetapi juga legitimate secara sosial.

Dalam perspektif etika pemerintahan, inilah bentuk integritas yang berkaitan dengan keberanian mengambil keputusan yang benar, meskipun menghadapi tekanan.

Integritas tidak selalu identik dengan penolakan terhadap sesuatu yang menguntungkan secara pribadi. Dalam banyak kasus, integritas justru menuntut keberanian untuk tetap konsisten pada prinsip ketika berhadapan dengan kekuasaan itu sendiri.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa tekanan dalam birokrasi adalah sesuatu yang tidak terhindarkan. Ia akan selalu hadir, terutama ketika keputusan yang diambil menyentuh kepentingan tertentu.

Namun, yang menentukan kualitas seorang pejabat publik bukanlah kemampuannya menghindari tekanan, melainkan kemampuannya menjaga arah keputusan agar tetap berpihak pada kebenaran dan kepentingan masyarakat.

Pada akhirnya, integritas adalah soal keteguhan. Keteguhan untuk tetap berjalan di jalur yang benar, meskipun jalan tersebut tidak selalu mudah dan sering kali penuh dengan konsekuensi.

Karena dalam jabatan publik, keputusan yang benar tidak selalu menjadi keputusan yang paling nyaman. Tetapi justru dari keputusan-keputusan seperti itulah kepercayaan publik dibangun dan dipertahankan. Dan kepercayaan itulah yang menjadi fondasi utama dari pemerintahan yang bermartabat. (*)